Senin, 27 Agustus 2012

MENCARI TUHAN YANG HILANG ... Fr ..http://www.fadhilza.com

MENCARI TUHAN YANG HILANG

Oleh : Fadhil ZA
agamaSecara naluri manusia menyadari bahwa mereka lemah dan mempunyai kemampuan yang serba terbatas. Banyak hal yang tidak mampu mereka lakukan sendiri, tanpa bantuan dari kekuatan yang lain. Manusia membutuhkan suatu kekuatan yang lebih dahsyat diluar diri mereka sendiri untuk mendapatkan apa saja yang mereka inginkan, atau melindungi diri mereka dari bahaya yang mengancam. Itulah naluri ketuhanan yang ada didalam diri manusia.
Naluri ketuhanan yang muncul didalam diri setiap orang berasal dari sumpah atau janji yang telah diikrarkan manusia ketika masih berada dialam roh. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al A’raaf 172:
al-araaf172
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”, (Al A’raaf 172)

Ketika masa kanak-kanak setiap orang sudah merasa bahwa diluar diri mereka ada suatu kekuatan yang dahsyat, yang dapat memenuhi keinginan mereka atau menyelamatkan mereka dari bahaya yang mengancam mereka. Nabi Ibrahim ketika masih kanak kanak juga sudah mulai mencari Tuhan yang diyakini sebagai suatu kekuatan maha dahsyat diluar dirinya yang dapat melindungi dan menyelamatkannya dari berbagai bahaya. Semula ia menduga bintang yang bercahaya terang dipagi hari sebagai Tuhan, namun tatkala cahaya bintang itu kalah oleh bulan ia menduga bulanlah sebagai Tuhan. Ketika datang siang hari ternyata cahaya bulan dikalahkan oleh matahari, kemudian ia menduga matahari sebagai Tuhan. Namun ketika sore hari cahaya matahari lenyap ditelan malam. Akhirnya ia menyimpulkan bahwa Tuhan yang patut disembah adalah Tuhan zat yang kekal abadi, maha kuasa, tidak terjangkau oleh panca indra, dan tidak ada suatu apapun yang menyerupainya.
Sampai saat ini masih banyak manusia yang mencari-cari sesuatu diluar dirinya yang diyakini sebagai Tuhan yang dapat melindungi dan memenuhi semua keinginan mereka. Naluri ketuhanan yang ada didalam diri mereka mendorong mereka untuk mencari, siapakah Tuhan yang dapat melindungi dan memenuhi hajat kebutuhan mereka itu?

budha


Banyak Tuhan yang ditawarkan untuk disembah ada yang berupa patung, berhala, tempat keramat, para dewa, Orang-orang sakti, Yesus anak Tuhan sang juru selamat dan lain sebagainya. Dalam sejarah panjang perjalanan hidup manusia, berbagai Tuhan yang disembah muncul dan tenggelam pada berbagai suku dan bangsa didunia ini. Ada yang meyakini matahari sebagai tuhan mereka, kemudian mereka menyembah matahari itu (penganut Shinto di Jepang). Ada yang meyakini api sebagai Tuhan mereka dan mereka menyembah api tersebut (penganut paham Zoroaster – Persia kuno). Ada yang meyakini Sapi sebagai tuhan mereka ( sebagian pengikut Musa ). Ada yang meyembah patung dan berhala Lata, Uzza, Manna dan lain sebagainya seperti yang dilakukan oleh kaum Quraiys dan kaum nabi Ibrahim.
Orang Yunani kuno juga banyak yang meyembah dan mengagungkan para dewa yang diyakini sebagai Tuhan. Ada dewa peperangan, ada dewa matahari, dewa bulan dan lain sebagainya. Al-Qur’an yang dibawakan nabi Muhammad bagi umat manusia meluruskan semua keyakinan dan kepercayaan yang keliru itu. Laa illaha illallah……tidak ada tuhan yang patut disembah selain Allah, Dialah Tuhan yang Satu, penguasa alam semesta, tidak ada satupun yang menyerupainya. Al-Qur’an melarang umat Islam menyembah Tuhan yang lain selain Dia, Al-Qur’an juga melarang umat Islam mempersekutukan Allah dengan apapun.
masjid1
Walaupun Allah telah mengirim nabi Muhammad saw sebagai Rasul dan kitab Al-Qur’an sebagai pedoman yang jelas, namun masih banyak manusia dizaman ini yang tetap mencari dan mengambil Tuhan yang lain selain Allah menjadi Tuhan dan sembahannya. Dari 7 milyar umat manusia didunia ini ternyata yang bertauhid dan menyembah Allah sebagai Tuhannya saat ini hanya sekitar 20 % saja, selebihnya memilih Tuhan yang lain yang mereka yakini akan menyelamatkan mereka. Masih banyak orang yang percaya bahwa Yesus adalah anak Tuhan…. mereka menyembah Yesus sebagai Tuhannya. Masih banyak orang yang mengambil Tuhan-Tuhan lain seperti umat Hindu, Budha, Shinto dan banyak lagi kepercayaan lainnya.
Banyak Tuhan yang ditawarkan untuk memenuhi naluri ketuhanan yang muncul didalam diri setiap orang. Banyak orang yang bingung menentukan pilihannya manakah Tuhan yang sebenarnya ? mereka mulai mencari dan mencari mencoba semua Tuhan yang ditawarkan. Dalam proses pencarian ini ada orang yang pindah agama sampai beberapa kali, akhirnya ada yang merasakan kebenaran Islam, namun ada pula yang akhirnya tidak percaya kepada Tuhan yang manapun, mereka memilih untuk tidak bertuhan (Atheis).
Syetan sebagai tentara iblis mempunyai andil yang sangat besar membuat bingung manusia dalam menentukan Tuhan pilihannya. Syetan menimbulkan was-was dan kebingungan didalam hati manusia sehingga banyak diantara mereka yang memilih Tuhan yang keliru, jadilah mereka penyembah Yesus kristus, Budha, Matahari, Bulan, Para Dewa, Orang sakti, tempat keramat dan lain sebagainya. Orang yang mengambil Tuhan selain Allah tidak sadar, bahwa mereka telah memilih Tuhan yang keliru. Syetan telah mempedaya dan menipu mereka sehingga mereka menyangka bahwa mereka berada pada jalan yang benar. Bahkan mereka menganggap orang yang beragama Islam dan menyembah Allah sebagai Tuhannya adalah domba-domba yang tersesat yang harus diselamatkan mengikuti Yesus sang penyelamat dan penebus dosa.
Allah telah menghingatkan ini dalam surat Yasin ayat 60-62
yasin-60-62
60- Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah setan? Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”,
61- dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. 62- Sesungguhnya setan itu telah menyesatkan sebahagian besar di antaramu. Maka apakah kamu tidak memikirkan? (Yasin 60-62)
Syetan adalah bala tentara Iblis yang dikerahkan untuk menghancurkan dan meyesatkan anak cucu Adam dari jalan yang lurus, sebagai pelaksanaan dendam turun temurun yang telah diikrarkan Iblis ketika terusir dari taman Syurga dahulu.sebagaimana disebutkan dalam surat al Israak ayat 62-64 :
62- Dia (iblis) berkata: “Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil”.
63- Tuhan berfirman: “Pergilah, barang siapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahanam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. 64- Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka. ( Al Israak 62-64)
Iblis berusaha mewujudkan ancamannya ini secara sungguh-sunguh dan serius, setiap detik, setiap saat ia mengerahkan bala tentaranya keseluruh pelosok dunia untuk menyesatkan anak cucu Adam. Walaupun kita tidak bisa melihat iblis dan bala tentaranya ini dengan mata fisik, namun kita bisa melihat hasil kerja mereka diseluruh dunia. Hasilnya sedikit sekali manusia yang ber-iman dan yakin serta percaya pada Allah sebagai Tuhan yang harus disembah. Kebanyakan manusia memilih meyembah tuhan yang lain selain Allah, nyatanya sampai saat ini dari 7 milyar penduduk dunia baru sekitar 1,6 milyar yang memeluk agama Islam. Inilah ujud dari sumpah serta ancaman Iblis yang disebutkan dalam surat Al Israak ayat 62, bahwa ia akan menyesatkan semua anak cucu Adam kecuali sedikit.
Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebahagian kecil”. (Al Israak 62)
Semua agama sama ??
Banyaknya aliran agama yang muncul dan masing masing merasa bahwa agamanyalah yang paling benar, telah memunculkan berbagai pertentangan bahkan peperangan didunia ini dalam rangka membela dan menyebar luaskan kepercayaan masing masing yang dianggap paling benar itu. Meredam berbagai pertentangan itu munculah paham yang mengatakan bahwa pada dasarnya semua agama dan kepercayaan itu sama. Semua agama baik sama sama menuju pada penyembahan kepada Tuhan, karena itu tidak perlu dipertentangkan. Semua agama didunia ini diibaratkan seperti jari jari sepeda, yang datang dari berbagai arah namun tujuannya satu yaitu ke poros roda. Di Indonesia paham yang mengatakan semua agama sama didukung oleh kelompok Jaringan Islam Liberal (JIL). Paham ini juga termasuk usaha Iblis dan bala tentaranya untuk menyesatkan manusia padahal dalam Qur’an surat Ali Imran ayat 19 dan 85 Allah dengan tegas menyatakan :
19- Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya . (Ali Imran 19)
85- Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ali Imran 85)
Al-Qur’an dengan tegas menyatakan siapa yang mencari agama selain Islam tidak akan diterima Allah keyakinannya itu dan diakhirat kelak mereka termasuk orang yang merugi. Lantas bagaimana nasib milyaran umat manusia yang sampai saat ini tidak atau belum memeluk Islam ?? Kita tidak bisa memvonis atau menghakimi mereka, mungkin mereka masih dalam proses mencari Tuhan yang hilang dari hati mereka. Bukan kewajiban dan kewenangan kita untuk memberi petunjuk dan hidayah kepada mereka, kewajiban kita hanya menyampaikan kebenaran Al-Qur’an kepada seluruh umat manusia.
Kewenangan untuk memberi petujuk dan hidayah sepenuhnya ada pada Allah penguasa Tunggal dialam semesta ini. Al-Qur’an mengakui keberadaan beragam agama dan kepercayaan didunia, namun hanya mengakui Islam sebagai agama yang diridhoi-Nya. Allah menolak cara peribadatan diluar yang telah ditetapkan-Nya didalam Al-Qur’an. Namun Al-Qur’an juga tidak menganjurkan umatnya untuk memaksakan ajaran Islam kepada umat manusia, Islam dikembangkan dengan akal dan fikiran bukan dengan paksaan.
Allah hanya menerima ibadah orang yang dilakukan dengan ikhlas dan tulus, bukan ibadah yang dilakukan dengan terpaksa karena adanya suatu ancaman. Allah sebagai penguasa tunggal dialam semesta tidak butuh untuk disembah oleh manusia. Allah memerintahkan manusia beribadah dan menyembahNya adalah untuk kepentingan manusia itu sendiri, bukan untuk kepentingan Allah. Manusia butuh kekuatan Ilahi yang dapat menyelamatkan dirinya dari berbagai bahaya dan ancaman. Keyakinan pada Allah dapat memberi ketentaraman dan rasa nyaman bagi orang yang ber-Iman.
Bagaimana umat Islam mensikapi orang yang berbeda keyakinan dengan dirinya dan tidak menjadikan Allah sebagai tuhan yang disembah ? Allah telah memberi tuntunan dalam surat Al Kafiruun sebagai berikut ini
alkafirun
1- Katakanlah: “Hai orang-orang yang kafir, 2- aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. 3- Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. 4- Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. 5- Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. 6- Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”. (Al Kafiruun 1-6)
Umat Islam tetap bisa hidup berdampingan dengan umat lain yang tidak menyembah Allah, dengan prinsip saling menghargai dan menghormati. Tidak perlu memaksakan keyakinan dan kepercayaannya kepada pihak lain. Kewajiban umat Islam hanya menyampaikan kebenaran dengan jelas. Islam hanya melakukan kekerasan terhadap orang yang menyerang dan memaksanya untuk merubah keyakinan yang telah dimiliknya.
Kewajiban menjaga iman dan ketakwaan diri
Pada kenyataannya orang yang ber-Iman dan bertakwa kepada Allah adalah umat minoritas didunia ini, namun ia bisa saja menjadi kelompok mayoritas ditengah suatu kelompok, suku atau bangsa. Sebagai contoh di India , China , Jepang, Amerika dan Belanda mungkin saja umat Islam sebagai kelompok minoritas, namun di Indonesia, Arab Saudi, Pakistan, Mesir umat Islam adalah kelompok mayoritas. Sebagai kelompok minoritas ditengah orang kafir kita harus tetap berusaha menjaga Iman dan Takwa kita, berdakwahlah dengan cara hikmah dan bijaksana menghadapi kelompok mayoritas yang kafir itu.
Bagi umat Islam yang menjadi kelompok mayoritas di negaranya , jangan berbangga dan menyombongkan diri. Kita juga harus menjaga kemurnian iman dan keyakinan kita. Keyakinan umat Islam yang mayoritas ini juga banyak digerogoti oleh aliran yang sesat dan keliru, tetaplah waspada dan selalu berpedoman pada 2 pusaka yang ditinggalkan Rasulullah yaitu Al-Qur’an dan Al Hadist. Jagalah diri dan keluarga dari aliran atau ajaran yang keliru, mohon bimbingan dan petujuk Allah agar tetap berada pada jalan-Nya yang lurus.
Mengapa sebagian besar manusia tidak menyembah Allah?
Naluri ketuhanan didalam diri manusia berusaha mencari kekuatan diluar diri mereka yang mereka yakini sebagai Tuhan yang akan melindungi dan memenuhi semua hajat keinginan mereka. Namun didalam pencarian ini mengapa mereka memilih Tuhan yang bermacam macam, bukan memilih Allah sebagai Tuhan mereka? Allah telah melengkapi manusia dengan akal, fikiran dan hati. Allah telah melengkapi pula dengan penglihatan dan pendengaran. Kekeliruan ini terjadi karena mereka tidak menggunakan akal, fikiran, hati , penglihatan dan pendengaran mereka dengan benar. Mereka lebih memperturutkan keinginan hawa nafsu dan bisikan syetan yang selalu menghampiri hati dan fikiran mereka. Allah telah mengingatkan ini dalam surat Al A’raaf 179:
al-araaf-179
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (Al-A’raaf 179)
Kebanyakan mereka kukuh dengan keyakinan yang mereka dapatkan turun temurun dari nenek moyang mereka, sebagaimana yang dilakukan oleh Azhar ayahanda nabi Ibrahim beserta pengikutnya yang menyembah patung yang mereka buat sendiri dengan tangan mereka. Demikian pula halnya dengan kaum Quraisy yang menyembah patung (berhala) Latta, Uzza, Ball dan Manna. Hal serupa dialami pula oleh pengikut Nasrani, Budha, Hindu dan lain lain, mereka kukuh dengan agama yang telah mereka warisi secara turun temurun. Mata, telinga, hati dan fikiran mereka tertutup untuk menerima kebenaran Qur’an yang mengajak mereka untuk bertauhid pada Allah.
Masing masing mereka kukuh dengan keyakinan mereka yang telah mereka warisi secara turun temurun. Mereka sudah merasa nyaman dan mapan dengan keyakinan yang mereka anut. Secara umum mereka merasa puas dengan berbagai kenikmatan yang mereka dapatkan didunia ini, mereka memandang rendah kepada umat Islam yang mereka anggap lebih rendah tarap kehidupannya dari mereka. Itulah tipu daya syetan kepada manusia yang memperlihatkan baik semua perbuatan buruknya dan memperlihatakan buruk semua kebaikan yang ditawarkan kepada mereka. Dihari berbangkit kelak semua hijab yang menutup hati mereka akan terbuka, dan mereka akan bertengkar dengan syetan yang telah menyesatkan mereka sehingga memilih Tuhan selain Allah sebagai sembahan mereka, sebagaimana disebutkan dalam surat Qaff ayat 20-29 berikut ini:
20- Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. 21- Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat penggiring dan seorang malaikat penyaksi. 22- Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu tutup (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam. 23- Dan yang menyertai dia berkata: “Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku”.24- Allah berfirman: “Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, 25- yang sangat enggan melakukan kebaikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, 26- yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah, maka lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat”.27- Yang menyertai dia berkata (pula): “Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh”. 28- Allah berfirman: “Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu”.29- Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku. (Qaaf 20-29)
Kelak ketika Neraka Jahanam diperlihatkan kepada orang yang kafir, mereka bersama berhala dan apa yang mereka sembah selain Allah akan dijungkir balikan masuk kedalam Neraka jahanam . Mereka akan bertengkar saling menyalahkan atas kekeliruan yang telah mereka lakukan, dan mereka berharap agar dapat kembali kedunia untuk memperbaiki kekeliruan yang telah mereka lakukan selama ini. Keadaan tersebut dikisahkan Allah dalam surat As Syu’ara ayat 91 -104 sebagai berikut ini :
91- dan diperlihatkan dengan jelas neraka Jahim kepada orang-orang yang sesat”,92- dan dikatakan kepada mereka: “Di manakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu menyembah (nya) 93- selain Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?” 94- Maka mereka (sembahan-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat, 95- dan bala tentara iblis semuanya. 96- Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka: 97- “demi Allah: sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, 98- karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam”.99- Dan tiadalah yang menyesatkan kami kecuali orang-orang yang berdosa. 100- Maka kami tidak mempunyai pemberi syafaat seorang pun, 101- dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, 102- maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia) niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman”.103- Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman. 104- Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. (As syu’ara 91-104)
Kita memang tidak bisa berbuat banyak kepada orang yang mengambil sembahan selain Allah, kewajiban kita hanya menyampaikan kebenaran bukan memberi petunjuk. Hidayah dan petunjuk sepenuhnya kewenangan Allah. Islam tidak dikembangkan dengan kekerasan tapi dengan pemahaman dan pengertian. Bagaimana dengan penduduk bumi yang sebagian besar belum ber-Iman? Kita serahkan semua itu pada Allah, dalam surat As Syu’ara ayat 104 diatas Allah telah menyebutkan “ tetapi kebanyakan mereka tidak ber-Iman” .
Bagi yang telah mendapat hidayah dengan memeluk Islam dan menyembah Allah sebagai Tuhan yang disembahnya, pertahankanlah Iman dan keyakinan yang telah dimiliki itu, karena Allah akan menguji iman dan keyakinan tersebut dengan berbagai kejadian baik dan buruk silih berganti. Banyak orang yang tidak tahan menghadapi ujian pada akhir nya murtad keluar dari Islam dan menganut agama lain bahkan ada yang menjadi penganut paham Atheis. Allah tidak akan membiarka seseorang menyatakan dirinya telah beriman sedang Allah belum mengujinya.
2- Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? 3- Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Al Ankabut 2-3)
Popularity: unranked [?]

6 Responses to “MENCARI TUHAN YANG HILANG”

  • kemal:
    ass. wr wb.
    bagaimana tanggapan bapak tentang kisah ini?
    sumber: http://noneage19.multiply.com/reviews/item/20
    kisah pelacur yg membunuh tuhannya
    Senja itu senyap ketika angin mendesir menerbangkan daun yang gugur
    perlahan. Pelacur itu mengutuk nasibnya. Dua hari lalu rekannya mati
    Dengan mengerikan. Saat pemakaman jenazahnya tak bisa masuk liang.
    Tubuhnya tiba-tiba memanjang sehingga panjangnya melebihi ukuran
    liangnya. Menurut orang-orang tua ia dikutuk oleh langit dan bumi.
    Setelah didatangkan seorang kyai barulah jenazahnya bisa dimakamkan.
    Peristiwa itu demikian membekas di hatinya hingga terbitlah sesal.
    Sejak itu ia selalu murung saja memikirkan masa depannya. Dan sejak
    itu juga dia ingat kembali masa-masa kecilnya.
    Dulu ia bersama teman-temannya biasa ke surau untuk mengaji selepas
    maghrib. Ia dulu sering ikut majelis taklim. Ia dulu rajin berpuasa,
    tarawih dan ikut membantu menyiapkan sahur untuk keluarga. Tapi sejak
    ia menikah dengan tetangga desanya nasibnya menjadi berubah. Suaminya
    ternyata penipu, pemabuk dan penjudi. Ketika seluruh hartanya habis di
    meja judi, ia menjual istrinya ke seorang germo. Dan, singkat cerita,
    sejak itulah dia menjadi seorang pelacur.
    Dan kematian rekannya itu menjadikannya merasa berdosa, sangat berdosa. Ia ingat ajaran ustad-ustadnya di kampung dulu, tentang siksa neraka bagi pelacur seperti dirinya. Ia dulu pernah membaca cerita bergambar yang mengisahkan siksa neraka, dimana para pelacur kemaluannya ditusuk dengan besi panas di dalam ruang api yang menyala-nyala.
    Dan di senja yang senyap itu ia sangat sedih, ia merasa tak lagi
    berharga di mata Tuhan. Pikirannya penuh dengan bayang-bayang murka Tuhan. Ia lalu ingat lagi masa remajanya. Dulu ustadnya dengan hidup menceritakan bagaimana Tuhan menyiksa para pendosa dengan kejam. Tuhan mengawasi setiap tindak-tanduk manusia, memerintahkan malaikat mencatat segala amalnya, dan menghukum atau memberi kenikmatan yang tak terhingga. Dan di senja itu juga ia sangat murung. Setelah berpikir cukup lama ia memutuskan pergi mencari ulama untuk meminta nasihatnya.
    Maka esok harinya ia meminta ijin pada germonya untuk berbelanja. Tapi Tentu saja ia tak berbelanja, ia pergi ke mesjid terdekat. Menemui ulama di sana, dan tentu saja hujan nasihat menyiram pikirannya. Dan
    demikianlah ia berjalan dari satu mesjid ke mesjid lainnya, dari satu majelis taklim ke majelis taklim lainnya. Dan hujan nasihat itu semakin deras. Semuanya mirip, tentang ampunan dan janji sorga, dan,lagi-lagi, tentang neraka yang mengerikan, tentang Tuhan Yang Maha Adil yang memberi balasan setimpal atas hamba-hambanya; dia harus bertobat, kembali ke jalan lurus, banyak salat, dan istighfar.
    Tapi itu semua tak bisa menentramkannya, sebab setiap kali ia salat, istighfar, bayangan murka Tuhan dalam bentuk siksa neraka selalu saja Hadir di pikirannya.Kembali dia mengutuki nasibnya. Maka hatinya gundah,dan tetap saja ia masih merasa kotor di hadapan Tuhan.
    Ia selalu ingat siksa neraka itu. Hingga akhirnya setelah beberapa minggu tak juga merasa tenang ia memutuskan tak lagi mencari ketenangan itu . Ia selalu ingat siksa Tuhan di neraka. Ia tak lagi yakin ada
    ampunan dari-Nya karena bayangan siksa-Nya yang demikian kejam terus saja menghantuinya, karena ia masih melacur, lagipula ia tak ada pekerjaan lain selain melacur karena ia tak punya keahlian lainnya -
    jadi bagaimana mungkin ia diampuni jika bertobat tetapi mengulangi kesalahan yang sama; tapi jika ia tak melacur ia pasti kelaparan. Ia merasa tak punya pilihan lain, hingga akhirnya ia secara tak sadar
    telah menarik kesimpulannya sendiri tentang Tuhan: Dia adalah Yang Maha Keras di dalam Maha Keadilan-Nya. Dia adil, dan menepati janji, maka tentunya siksaan itu pasti dijatuhkan. Dirinya telah ditakdirkan menjadi pelacur selamanya dan karena itu akan tetap bergelimang dosa. Dengan pikiran begitu ia patah semangat. Pikirannya kalut dan akhirnya ia nekat hendak bunuh diri. Ya, bunuh diri! Bukankah sama saja
    mati nanti dengan mati sekarang, toh hukuman sudah menanti. Memang benar dia pernah dengar sifat-Nya yang Maha Pengampun. Ia memang pernah dengar bahwa sebelum nyawa sampai ke kerongkongan ampunan-Nya masih
    terbuka. Akan tetapi ia juga pernah mendengar bahwa manusia berdosa mesti masuk neraka dulu untuk disucikan dari kotoran-kotoran dosanya, baru diangkat ke sorga. Jadi, pikirnya, mungkin, sekali lagi mungkin, dirinya akan diampuni, tetapi tetap saja ia mesti masuk neraka, sebab Tuhan Maha Adil dan Menepati Janji. Lagipula tak ada jaminan ia masih hidup esok hari, dan tak ada jaminan dia akan mati dalam keadaan
    telah bertobat.
    Selain itu cap dirinya sebagai pelacur sungguh sulit dihapuskan. Bahkan kalau ia meninggalkan dunia pelacuran ini, sebutan “bekas pelacur” tetap saja memalukan. Bahkan di dunia ini sesungguhnya dia telah dihukum secara sosial dan psikologis. Bahkan di dunia ini dia sudah dihukum! Jadi Sekali lagi, hukuman itu tampak sebagai sebuah keniscayaan.
    Sekarang ia harus memikirkan cara bunuh diri yang paling efisien dan tidak menyakitkan. Gantung diri jelas tak nyaman. Terjun dari gedung bertingkat juga tak mungkin sebab dia takut ketinggian. Ini persoalan
    serius, ia harus memikirkannya masak-masak. Dan malam ini, sambil melakukan Pekerjaannya melayani lelaki, pikirannya sibuk memikirkan cara bunuh diri secara efisien dan tak menyakitkan. Dan pada dini hari sekitar jam 4 dia sudah menemukan caranya.
    Dua hari kemudian ia pergi dari lokalisasi ke desa di selatan kota yang sering dikunjunginya jika dia stress untuk melaksanakan niatnya. Di ujung desa itu terdapat lembah ngarai yang pemandangannya sangat indah. Di sebelah timur ngarai itu terdapat hutan lebat, dan gunung yang tak begitu tinggi. Saat matahari muncul dari balik gunung itu sinar emasnya meluncur seperti lempengan emas menerpa dedaunan pepohonan hutan itu.
    Sementara itu kabut merayap naik dari ngarai lalu dengan pelan dan halus menyelimuti hutan dan lubang ngarai yang menganga itu. Meski di atas ngarai, ia tak merasa berada di ketinggian jika kabut itu sudah
    menutupinya, sebab nanti hanya akan tampak hamparan permadani putih membentang di atas ngarai. Karenanya dia bisa berjalan ke permadani itu dan, tentu saja, ia akan jatuh ke ngarai yang curam dan berbatu. Sungguh tempat ideal untuk bunuh diri. Saat pelacur itu sampai di tempat itu di pagi hari, ngarai tersebut sudah hampir tertutup oleh kabut, dan permadani putih itu sudah terbentuk. Keadaannya sepi, dan hanya desir angin yang mengisi kekosongan. Dia tinggal menunggu
    beberapa saat lagi, dan terlaksanalah rencananya,tanpa harus takut.
    Demikianlah, ketika permadani itu sudah terbentuk,ia menarik nafas panjang, mengepalkan kedua tangan,ditegakkannya kepala dan punggungnya, lalu dengan langkah pelan tapi pasti ia berjalan ke bibir ngarai.Angin masih berdesir,dan di atas seekor burung melayang seolah ingin menyaksikan detik-detik yang mendebarkan ini. Langit biru cerah, udara dingin,sepi,dan langkah kakinya terdengar berdetak keras saat menapak tanah. Dalam hitungan detik ia sampai di bibir ngarai. Ia tak menatap ke bawah, hanya memandang permadani putih itu. Sejenak ia tampak bimbang,bibirnya terkatup. Lalu dipejamkan matanya dan seiring hembusan angin ia mengangkat kakinya maju kedepan…Di kejauhan terdengar suara cicit burung. Daungemerisik disentuh angin. Bukk… pelacur itu terjerembab… ke belakang! Di saat yang menentukan itu sebuah tangan menarik badannya dengan keras. Jadi ia tak jadi mati.
    Pelacur itu meringis kesakitan, lalu menoleh ke belakang. Di lihatnya seorang lelaki setengah baya,sedikit beruban, memanggul ikatan rumput, dengan sabit di pinggangnya. Lelaki itu tersenyum. “Kenapa?” tanyanya pelan, sambil meletakkan ikatan rumput, lalu menolong pelacur itu berdiri. Pelacur itu, setelah terhenyak heran sejenak, merasa kecewa, sedih dan marah, lalu duduk di atas tanah. Kemudian terdengar isak tangis di kesunyian. Lelaki itu membiarkannya menangis. Setelah beberapa lama isak itu semakin pelan, lalu berhenti sama sekali.
    “Kenapa?” kembali ia bertanya. Pelacur itu hanya diam.
    Angin menderu sedikit lebih kencang. Setelah beberapa lama ia mendesah. “Mengapa paman selamatkan aku?”protesnya.
    “Aku hanya mengikuti kata hati. Bunuh diri itu perbuatan buruk, maka aku mencegahmu. Tampaknya kau menanggung beban persoalan yang sangat berat hingga kau berbuat nekat. Ceritakanlah, barangkali aku bisa
    meringankannya.”
    “Tak usahlah paman. Aku sudah berminggu-minggu mencoba menguranginya, tapi itu bahkan menambah bebanku.Lagipula aku tak ingin membebani paman dengan persoalanku.”
    Lelakii itu tersenyum. “Mari duduk. Ceritakan saja, aku tak kan merasa terbebani.” Setelah ragu sejenak,pelacur itu menurut. Ia duduk di atas batu, sedangkan lelaki itu duduk di depannya, juga di atas batu.
    Hening sesaat. Perempuan itu hanya menundukkan kepalanya. Angin bertambah kencang, kabut itu mulai tersingkap dan permadani itu perlahan-lahan terurai,menyingkapkan dasar ngarai. Rambut pelacur itu
    berkibar, dan beberapa helai menutupi wajahnya.Burung di langit itu masih berputar, seperti tak hendak melewatkan peristiwa ini. Kemudian, sambil menyibakkan rambut yang menutup wajahnya itu, dia mengangkat
    kepalanya dan menatap lelaki itu. Lalu ia mulai menceritakan semuanya, ya, semuanya, dari awal hingga akhir.
    Setelah selesai, pelacur itu menunduk lagi, dan tak terasa matanya kembali berlinang. “Hmm, jadi itu persoalannya. Jadi kau yakin Tuhan, walau mungkin akan mengampunimu, Dia tetap akan menghukummu atas dosa-dosamu. Sungguh adil Tuhanmu itu, tetapi Dia juga sungguh keras. Tak memberimu pilihan selain melacur,hmm, Dia sungguh keras.”
    Perempuan itu hanya menganggukkan kepalanya. Di atasnya, burung itu masih berputar, lalu meluncur turun ke pepohonan hutan.Sementara itu kabut sudah semakin tipis, dan matahari mulai mengirimkan hawa
    panasnya. Tetapi angin masih kencang.
    “Aku mau bertanya, seandainya ada orang yang membebaskanmu dari dunia pelacuran, apakah kau masihyakin Tuhan akan menghukummu?”
    Sejenak pelacur itu berpikir. “Ya,” jawabnya.
    “Mengapa?”
    “Sebab aku terlampau kotor, dan hanya api neraka saja yang bisa menghapusnya. Bukankah Dia itu Hakim Maha Adil? Tentunya kesalahan tak dihapus begitu saja. Bukankah menurut kitab suci yang pernah aku baca
    perbuatan buruk sebesar zarah sekalipun akan mendapat balasannya?”
    “Jadi menurutmu Tuhan itu bagaimana?”
    “Dia Maha Adil. Dia pasti menepati janji. Aku ingat dulu ustad di desaku mengatakan begitu. Dia akan menghukumku…” sampai di sini dia menangis lagi.
    Lelaki itu menggelengkan kepalanya. tampak jelas dia begitu masygul.”Terlalu banyak orang yang seperti dia” katanya dalam hati. Tapi ia sadar bahwa pelacur itu sudah banyak mendapat nasihat, jadi dia merasa tak perlu memberinya nasihat lagi. Akhirnya, setelah menimbang-nimbang sejenak dia berkata:”Kau tertekan sekali. Hidupmu demikian pedih karena Tuhanmu menghendaki begitu, kan? Tak memberimu pilihan selain melacur, dan tentu akan menghukummu,” katanya,mengulang kata-katanya yang tadi telah diucapkan.
    Sambil terisak pelacur itu mengangguk, “Ya, Dia tak memberiku banyak pilihan.”
    “Jadi kalau begitu Tuhanmu itulah sumber masalahnya,sebab Dia-lah yang menjadikanmu tertekan begini.”
    Mendengar ini, pelacur itu agak ragu. Benarkah Tuhannya yang menjadi sumber masalah? Benarkah takdir-Nya yang menciptakan semua persoalan yang menimpanya kini? Ia jadi bimbang, tak tahu apa yang mesti dikatakan. Seketika pikirannya kosong, kalut. Ia jadi takut sendiri. Apakah takdir Tuhan yang mempermainkannya? Ia tiba-tiba ingat betapa para lelaki di lereng Merapi yang tidur lelap bersama istri mereka yang sah tersapu oleh hawa panas dan desa mereka hancur, sementara itu para lelaki kaya yang selingkuh dan menidurinya tak tersentuh sama sekali
    oleh bencana ini.Apakah penduduk desa itu lebih jahat daripada lelaki kaya yang menidurinya? Apakah penduduk desa itu lebih bejat moralnya ketimbang penduduk kota?
    Apakah perbuatan maksiat di sana lebih banyak dan lebih dahsyat ketimbang di kota? Jika tidak, kenapa bencana itu menimpa mereka? Ia lalu membandingkannya dengan nasibnya sendiri. Ia ingat bekas suaminya, ia ingat germonya. Ia ingat maka kecilnya. Ia ingat suara anak-anak desa yang mengaji. Ia ingat penduduk desanya yang rajin bertani, mencari nafkah secara halal, tetapi tak kunjung makmur. Ia ingat lelaki yang menidurinya, yang mencuri, korupsi tetapi hidupnya makmur. Jadi di mana keadilan Tuhan? Jadi apakah Tuhan selama ini hanya mempermainkan manusia? Lagipula, adakah jaminan penduduk yang tertimpa bencana itu
    masuk sorga? Siapakah yang bisa memastikan para lelaki yang menidurinya itu kelak mati sebelum bertobat? Dan kepalanya seperti melayang,ia bingung. Tapi ia menjadi jengkel, sebab lelaki ini justru menambah persoalan bagi dirinya. Bukankah lebih baik dia mati tadi?
    “Jika menurutmu Tuhan itu sumber masalah, kau abaikan saja Dia, atau… “sejenak dia berhenti. Lalu dengan pelan berkata sambil tersenyum misterius:”Bunuhlah Dia. Kujamin masalahmu hilang,”
    Dan pelacur itu kaget lalu bertambah jengkel. Membunuh Tuhan? “Apa maksud paman?” “Ya, tinggalkan dia.Hiduplah tanpa Tuhan.”
    Pelacur itu jadi ragu, jangan-jangan lelaki ini tak waras. Tapi, setelah berpikir agak lama, rasanya anjurannya tampak masuk akal. Jika ia tak memikirkan Tuhannya lagi, tak memikirkan sorga neraka, tentunya
    ia tak perlu takut lagi, walau hati kecilnya masih cemas tentang keadaannya setelah mati.
    Tetapi jika ia tak takut lagi kepada Tuhannya yang keras itu, bukankah ia dapat hidup dengan lebih nyaman dan tenang? Ketidakpastian nasibnya di akhirat akan lenyap, sebab ia telah membunuh Tuhan yang menguasai
    dunia-akhirat. Memikirkan hal ini, seketika hatinya menjadi tenang, terbitlah terang di pikirannya. Ya, ia akan bunuh atau tinggalkan saja Tuhannya itu. Ia akan menapak hidup ini dengan riang dan bebas dari beban dosa dan kecemasan akan murka-Nya. Ia merasa bebas.Langit masih biru, awan mulai berarak dan tiupan angina menyusut. Daun gemerisik di kejauhan.
    Jadi demikianlah, pelacur itu, setelah berterima kasih kepada lelaki itu, pulang ke lokalisasi. Dia kini merasa siap menentukan nasibnya sendiri. Ia tak mau tunduk pada takdir yang menetapkannya jadi pelacur.
    Karena ia sudah membunuh Tuhan, bukankah takdir itu sudah tak berlaku lagi? Maka dengan mantap ia bilang kepada germonya untuk berhenti sebagai pelacur. Ia siap cari kerja lagi, apa saja,asal bukan melacur. Pikirannya kini dipenuhi banyak rencana, dan seiring dengan semakin tenangnya pikirannya itu, ia merasakan banyak kesempatan terbuka lebar di hadapannya. Ia punya rencana jadi TKW, atau pembantu domestik. Ia juga punya rencana untuk membuka warung makan. Modalnya bisa pinjam temannya. Pokoknya sejak ia membunuh Tuhan, pilihan tak lagi terbatas. Ia tak lagi hanya punya pilihan melacur!
    Takdir-Nya sudah dihancurkan! Ah, benar sekali nasihat lelaki itu: membunuh Tuhan yang jadi sumber masalah. Kenapa tidak dari dulu saja! Kini ia jadi pembantu. Sekarang dia tenang dan bahagia dengan keadaannya yang sekarang. Pagi itu ia merasa dadanya sangat lapang.
    Majikannya akan pergi selama seminggu, dan dia boleh pergi ke mana saja selama seminggu ini. Dia ingin berlibur, dan tempat pertama yang muncul di pikirannya adalah ngarai itu. Ya, ngarai yang mengubah jalan hidupnya. Pagi buta dia berangkat. Setelah tiga jam sampailah dia di sana. Pemandangannya masih sama,masih sepi dan masih berangin. Hanya saja burung yang berputar di angkasa tak ada. Ia duduk di batu tempat
    dia berbincang dengan lelaki itu. Ia tersenyum ketika mengenang pertemuan itu. Angin dingin kembali berhembus, menyejukkan wajahnya, dan angin itu juga yang menyibakkan rambut menutupi wajahnya. Ia
    memejamkan matanya, menarik nafas dalam-dalam,seolah-olah hendak menghisap masuk semua kesunyian yang tenang itu ke dalam hatinya, seolah hendak menyimpannya dalam hati. Tiba-tiba dia merasakan sentuhan di bahunya.
    Saat membuka mata dia melihat lelaki yang dulu itu sudah berada di depannya. Tapi kini ia tak membawa ikatan rumput, hanya sabit di pinggangnya. “Bagaimana keadaanmu?” tanyanya, dengan senyum yang masih sama seperti yang dulu.
    Kini bekas pelacur itu membalas senyum itu dengan senyum pula. “Jauh lebih baik. Aku merasa lebih bahagia dan tenang. sekali lagi, terima kasih atas nasihat paman,” sahutnya ramah.
    “Oh ya? Ceritakanlah padaku. Berbagilah kebahagiaanmu denganku.” Lalu lelaki itu duduk di atas batu tepat di depannya. Persis seperti pertemuan pertama dulu. Kali ini bekas pelacur itu tak ragu lagi untuk menceritakan semuanya, ya, semuanya, dari sejak pertemuan pertama sampai pertemuan yang sekarang. Dan lelaki itu tertawa kecil,
    mengangguk-anggukan kepalanya. “Hmm, kau telah menemukan ganti atas Tuhanmu yang kau bunuh dulu. Kau telah menemukan Tuhan baru.”
    Bekas pelacur heran mendengar ucapannya. Mendapatkan ganti Tuhan yang baru? Memangnya ada berapa banyak Tuhan itu? “Apa maksudmu?”
    “Apakah kau tahu bahwa Tuhan itu tunduk kepada pikiran orang?” Perempuan itu menggeleng, dan bertambah heran. Lelaki itu bangkit berdiri, menatap hamparan langit,lalu berkata: “Dulu kau menundukkan Tuhan dengan pikiranmu. Kau jadikan dia Tuhan yang Adil dan Keras.
    Tuhan yang tak memberimu pilihan. Maka Tuhanpun menuruti keinginanmu. Jadi bukan Tuhan sumber masalahmu, tapi kau sendiri.” Seketika itu juga
    pikirannya kembali kosong, tapi kini tak kalut lagi. Ia lalu lagi-lagi ingat dulu waktu kecil saat mengaji kitab-kitab agama, ustadnya membacakan hadits qudsi,yang artinya kurang lebih menyatakan bahwa Tuhan itu adalah sesuai dengan anggapan dan pikiran orang, karena itu orang mesti berbaik sangka kepada-Nya. Kini kepalanya kembali melayang, tapi ia tak bingung lagi,juga tak jengkel lagi. Tiba-tiba dadanya bertambah lapang. Ia merasa bahagia karena telah mendapatkan Tuhan yang sama sekali lain dengan yang dulu. Tuhan yang membebaskan, memberi banyak pilihan, ampunan.Dia tiba-tiba merasa Tuhannya yang sekarang jauh lebih ramah dan pengasih. Dia memberinya kebebasan dari pelacuran. Dia tiba-tiba sadar musibah yang berwujud rasa tertekan yang dulu menimpa dirinya bukan hanya sekedar musibah. Dia ingat musibah di lereng merapi.Dia ingat lelaki korup tapi makmur yang menidurinya.
    Dia ingat penduduk desa yang bekerja keras dan halal tapi tak juga makmur. Kini ia memandang itu semua secara berbeda.
    Takdir tak mempermainkan! Ya, takdir tak mempermainkan manusia. Manusialah yang bermain-main dengan takdirnya sendiri. Sungguh sulit dijelaskan, tapi pengalamannya mengatakan begitu. Bekas pelacur itu tersenyum. Lelaki itu juga tersenyum, dan setelah mengucap salam dia
    pergi, mencari rumput dengan sabitnya yang terselip di pinggang. Sejenak kemudian bekas pelacur itu tiba-tiba seperti mendengar panggilan shalat. Dan kali ini hatinya bergetar, sebab hatinya rindu ingin segera menemui dan bercakap-cakap lebih banyak dengan Tuhannya yang baru ini.
    Hayya alal falah….panggilan itu kembali bergema di
    kalbunya. Angin masih semilir, daun gemerisik pelan di
    tengah sunyi. Pelan sekali…
    • Ass wr wb
      Subhanallhah…kisah yang sangat menarik. Banyak sekali manusia yang mengalami kondisi seperti pelacur itu. Salah memahami Allah, mempunyai pandangan yang keliru tentang Allah, karena telah medapat informasi yang salah tentang Allah. Informasi yang benar tentang Allah hanya bisa kita dapat langsung dari Qur’an, Allah telah melengkapi manusia dengan akal, hati dan fikiran untuk memahami Qur’an. Allah pasti akan memberi petunjuk kepaqda orang yang bersungguh sungguh berusaha untuk mendekatkan diri dan meraih petunjuknya.
      Hidayah dan petunjuk itu sepenuhnya kewenangan Allah, manusia hanya berusaha . Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki dan membiarkan sesat siapa yang dikehendaki-Nya.
  • Pretty good subdivision. I just came across your web site and loved to say that I have really enjoyed reading your opinions. In any caseI’ll be coming back and I hope you post again soon.
  • aryo:
    izin copy.
    demi kebaikan dan perbaikan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar